Yang Sakit Badannya Atau Jiwanya ?


Begini. Penulis beberapa hari yang lalu diminta tolong seorang saudara untuk mengantar anaknya ke RSML di Lamongan. Kondisi anak tersebut (kurang lebih umur empat atau lima belasan tahun) seperti orang ketakutan. Anehnya suara sampai tidak bisa keluar. Menagis pun tidak bisa keluar suaranya. Bicarapun tak mampu. Keadaannya seperti orang bisu.

Setelah penulis perhatikan, anak ini bukan kesurupan ataupun terganggu makhluk halus. Namun penulis curiga anak ini pernah mengalami trauma kejiwaan karena ketakutan yang amat sangat. Penulis mendapat ketarangan dari ortu si sakit bahwa anak ini pernah ketakutan karena terjumpa ular kecil di dalam almari pakaiannya. Oh, pantes, orang Jawa bilang kena ‘sawan’ atau sawanen.

Penulis memberi saran kepada ortu si sakit supaya dicarikan obat ‘sawan tua’ kepada ahlinya. Atau jika dibawa ke dokter atau rumah sakit, maka seyogyanya dibawa ke poli pskiater saja. Namun dasar karena saking gugupnya si ortu, pokoknya harus diperiksakan ke RS dengan dicek lengkap baik paru, jantung, darah dan sekalian scan otaknya. Waduh, nggak mikir biaya apa ???

Akhirnya penulis bawa si anak tersebut ke RSML Lamongan, masuk IGD. Rupanya dokter jaga cukup berpengalaman dan arif orangnya. Dengan bijaksana beliau menyarankan supaya si anak ini dirujuk ke psikater saja, karena yang sakit bukan badannya tetapi jiwanya.

Namun justru pihak keluarga alias si ortu yang ngeyel harus diperiksa lengkap seperti penulis sebutkan diatas. Ya, akhirnya dilakukanlah pemeriksaan. Hasilnay memang bukan badan si anak yang sakit tetapi jiwa si anak yang sakit. Harus rujuk ke psikiater. Nah kan apa ane bilang ? Sudah ketemu dokter yang bijak malah nantangi pemeriksaan lab macam-macam, ya biayanya kan yang banyak. Habis itu biasanya malah ngedumil nyalahin RS nya, bilangnya masuk sehari saja habis sekiat ratus atau juta. Lha kan salah sendiri. Sudah dikasih tahu oleh dokter bahwa yang sakit bukan badannya tapi jiwanya malah si ortu ngeyel. Ini bisa jadi pelajaran kita semua, janganlah pasien atau keluarga pasien geyel seakan lebih pandai dari dokter. Mengenai pemeriksaan ini itu biar dokter sendiri yang menentukan sesuai diagnosa yang ditentukan. Bukan keluarga pasien yangngatur atur pemeriksaan. Betil ngggak ? Bagaimana pendapat Anda ?

Salam, Tiknan Tasmaun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: