EMANSIPASI YANG AMBIGU


Wanita kini punya semboyan emansipasi, persamaan derajat laki dan perempuan. Sejatinya jika yang dimaksud adalah persamaan derajat kemanusiaan tentu hal itu adalah fitrah alias lumrah. Hal yang dari ‘sononya’ sudah diatur begitu. Jika terjadi penyimpangan maka manusialah yang telah menyimpangkannnya. Sebab pada dasarnya manusia yang mulia di sisi Tuhannya adalah manusia yang ‘nurut’ kepada-Nya, tidak perduli laki atau wanita.

Namun jika emansipasi memasuki wilayah peran dalam rumah tangga maka sudah jungkir balik. Karena bagaimanapun diantara wanita dan pria atau suami istri punya tanggung jawab dan peran yang berbeda. Perbedaan ini sudah ‘ketentuan dari sononya’ juga.

Pergaulan sosial juga demikian. Coba perhatikan kasus- kasus demikian. Dalam bus yang penuh penumpang ada perempuan berdiri bergelayutan. Biasanya penumpang laki-laki terdekat akan menawarkan tempat duduknya. Hal ini sudah benar. Namun jkka mengikuti logika emansipasi maka biarkan wanita yang berdiri ya berdiri saja. Kan katanya laki perempuan sama saja, gak ada yang perlu diperlakukan berbeda. Kecuali anak-anak.

Nah, justru jika praktek kasihan terhadap wanita ini dihilangkan atau jika tidak ada perbedaan antara memperlakukan wanita dan pria (dari sisi positifnya) maka justru kita sebagai manusia akan kehilangan kemanusiaan kita. Coba bayangkan jika Anda melihat tukang becak yang wanita, apa perasaan Anda ? Sementara dia sebagai istri, sedangkan suaminya di rumah masak dan momong anak. Jika itu terjadi karena dalih emansipasi bisakah akal sehat Anda menerima ?

Atau dalam masalah keanggotaan lembaga legislatif. Ada kuota minimal tiga puluh persen harus wanita. Ini kan malah merendahkan martabat wanita. Jadi masuknya wanita itu hanya ‘terpaksa’ semata-mata karena kuota. Mestinya biarkan siapapun mau laki atau wanita asal mumpuni untuk diajukan menjadi calon anggota legislatif. Gak usah kuota-kuotaan.

So, memaknai emansipasi haruslah pada makna dan tempat yang semestinya.

2 Balasan ke EMANSIPASI YANG AMBIGU

  1. sunflowerplantz mengatakan:

    Maaf, tapi kalau memberi tempat duduk untuk perempuan, kalau dia tidak hamil, gendong bayi, sakit parah dan belum tua, GAK tuh (saya gak pernah kecuali saya mau turun). Cuma oknum wanita2 manja aja yang masih nuntut, tapi kalau saya sih menjalankan emansipasi, loe berani menghadapi kesulitan di luar rumah, ya siap dong dengan budaya antri (dateng duluan duduk, dateng belakangan berdiri).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: