Ada Provokator Gentayangan, Awas Hati-Hati !


Jangan kaget dengan judul tulisan ini. Bombastis ? Oh, tidak. Mengada-ada, bukan juga. Ini real adanya. Betul – betul sang provokator berkeliaran di sekitar kita. Setiap hari. Menyelinap dalam komunitas kita bahkan dalam kehidupan keseharian kita. Karena itu, awas, berwaspadalah jika Anda tidak mau ikut menjadi pecundang !

Ini provokator apaan ? Ya provokator untuk berbuat munkar. Provokator untuk berbuat kebejatan. Provokator untuk berbuat brutal, onar , maksiat dan lain sebagainya. Tujuannya ? Apalagi kalau bukan untuk menjerumuskan kita dalam kehidupan yang kacau-balau, kehidupan tidak nyaman atau neraka baik neraka dunia maupun neraka akherat. Lha, siapa provokator ini dan bagaimana ciri-cirinya ?
Ini dia yang mau penulis bahas supaya kita semua bisa waspada. Ok, Anda ingatkan terhadap wejangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa tiap bayi lahir itu suci, perkara mau jadi apa tergantung orang tuannya ( dan tentu saja lingkungannya juga). Artinya tiap manusia dilahirkan mempunyai ‘bibit’ untuk berbuat baik dan mulia. Itu disebut ‘fitrah’. Dan fitrah itu Islam. 

Namun jangan lupa pula bahwa memang pada setiap diri manusia itu juga ‘disangoni’ kecendurang untuk berbuat yang sebaliknya. Dalam salah satu ayat Quran menerangkan bahwa Tuhan menanamkan dua jalan dalam jiwa manusia. Satu menuju ke kebaikan yang satunya lagi adalah menuju kepada kefasikan. Maka berbahagialah bagi manusia yang mampu menyucikan jiwanya.

Hal tersebut dukupas panjang lebar oleh Syeh Abdul Qodir Jailani dalam bukunya ’sirul asror’ bahwa jiwa manusia berasal dari alam ‘tinggi’ yang kemudian masuk atau dimasukkan dalam alam ‘rendah’ yaitu alam mulki alias jasad. Sedangkan jasad dibuat oleh Allah dari anasir bumi, angin, udara dan api / panas. Tiap anasir inilah yang dibeklai nafsu bawaan demi kelangsungan hidup dan budaya manusia di muka bumi. Namun juga sekaligus jika tidak dikendalikan maka akan ‘ngombro-woro’ meluap-luap menjadi hawa nafsu tak terkendali yang menyesatkan. Nah, pengendali ini adalah pemberian-Nya yang menjadi bawaan Ar-Ruh yang berasal dari alam ‘tinggi’ tersebut berupa akal dan ‘alam rasa’ atau bashiroh.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidik Indonesia mengibaratkan bahwa tiap manusia lahir bagaikan kertas putih yang sudah ada tulisan tipis berupa tulisan yang tegak dan  miring. Tugas orang tua, pendidik dan lingkungan adalah menghilangkan atau meminimalisir tulisan yang miring dan mempertebal tulisan yang tegak. Tulisan yang tegak adalah kiasan terhadap akal budi dan  nurani manusia sedang tulisan miring adalah ibarat nafsu angkara manusia.

Jadi yang saya maksudkan provokator adalah nafsu kita sendiri. Karena dari pintu nafsu inilah banyak dorongan iblis bisa masuk. Dan ini faktanya, bahwa provokator yang berupa nafsu ini bisa menghinggapi siapa saja. Orang Islampun bisa diprovokatori oleh nafsunya sendiri. Orang nasrani, hindu, buda atupun konghucupun sama saja. Anggota pemerintahan, rakyat biasa, petani, warga NU, anggota FPI, angota jemaah Ahmadiah, atau siapa saja tanpa terkecuali bisa diprovokatori oleh nafsunya sendiri. So, musuh dan provokator yang paling besar dan bahaya adalah hawa nafsu kita sendiri.

Bagaimana pendapat Anda ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: