Kisah HAJI MUTAMAKIN : Sindiran Terhadap Formalisme


Hal putusan tersebut, sepertinya Sang Raja ingin menyenangkan para ulama yang menjadi pihak penggugat sekaligus tidak mau bertindak zalim kepada Haji Mutamakin.

 

Pada zaman keraton Kertosuro ( Solo ) ketika Sang Raja adalah Sinuhun Sultan Amangkurat IV terjadilah ‘ontran-ontran’ ini. Seorang ulama ‘nyeleneh’ yang bernama Haji Mutamakin yang menjadi kontroversi. Beliau tinggal di Kajen, Pati. Kontroversinya adalah karena beliau seorang ulama ahli ilmu hakikat yang gemar memelihara anjing. Ada dua ekor anjing piaraannya. Yang satu diberi nama Abdul Qohar dan satu lagi diberi nama Qomaruddin. Kebetulan nama itu bertepatan dengan nama seorang Penghulu Keraton dan seorang Khotib di Kadipaten Tuban. Betapa tersinggungnya dua orang punggawa kerajaan tersebut. Namanya dipakai oleh Haji Mutamakin sebagai nama anjing-anjingnya. Ditambah lagi dengan adanya pengajaran atau wejangan terhadap ilmu hakekat terhadap santri-santrinya.

Permufakatan diantara ulama ‘ahli dlohir’ pun terjadi. Mereka sepakat menghadap kepada Sinuhun Sultan untuk memohon digelar pengadilan terhadap Haji Mutamakin. Raja berkenan mengadili. Tuduhan utama adalah Haji Mutamakin sebagai ulama telah menyimpang dari syareat Islam, sesat dan menghina agama Islam. Sebelum hukuman diputuskan kebetulan Sinuhun Sultan Amangkurat IV keburu meninggal. “Panjengan Dalem’ kemudian diganti oleh Sinuhun Pakubuwono II. Dalam masa pemerintahan Pakubuwono kedua inilah Haji Mutamakin disidangkan.

Sinuhun SultanPaku Buwono II  kemudian memanggil Demang Irawan, seorang punggawa kepercayaan beliau. Diberikan putusan bahwa Haji Mutamakin dibebaskan dari segala tuntutan. Ketika di depan persidangan yang digelar di kediaman Patih Danurejo, putusan itu dibacakan. Semua adipati dan ulama diam tertunduk tanda patuh kepada putusan penghakiman Raja. Namun ada satu ulama muda pemberani dari Kudus. Beliau adalah Khatib Anom Kudus. Beliau tidak setuju terhadap pembebasan ini dengan mengemukukan hujah bahwa Haji mutamakin bukan saja melanggar syareat agama tetapi juga sudah berani menjatuhkan wibawa pemerintahan Sultan.

Kembalilah Demang Urawan menghadap Raja. Menyampaikan bantahan Khatib Anom Kudus. Oleh raja ditanyakan perbandingan antara Khatib Anom dengan Haji Mutamakin. Diterangkan bahwa Khatib Anom bicaranya berwibawa dan hujahnya mumpuni sehingga sulit dibantah.

Terlihat Sang Raja sedikit ragu akan keputusannya. Namun kemudian Raja bertitah bahwa sebenarnya Haji Mutamakin tiada bersalah. Apalagi jika beliau hanya mengamalkan ilmu hakikat hanya untuk dirinya sendiri, tidak menyebarkan di khalayak umum. Akhirnya diputuskan oleh Raja suatu putusan yang tiada seorangpun boleh mengganggu gugat. Isi keputusan tersebut adalah Haji Mutamakin bukan dibebaskan dari pertuduhan tetapi diampuni kesalahannya dan dibebaskan diri hukuman (seperti layaknya grasi kalau jaman sekarang, jadi bukan bebas karena tidak bersalah tetapi bebas karena diampuni). Juga dititahkan bahwa siapapun dilarang mengajarkan ilmu hakikat di dalam wilayah keraton, tetpi jika diluar wilayah keraton dipersilahkan.

Hal tersebut sepertinya Sang Raja ingin menyenangkan para ulama yang menjadi pihak penggugat sekaligus tidak mau bertingak zalim kepada Haji Mutamakin. Sebagai isyarat bahwa Raja berkenan terhadap Haji Mutamakin maka Raja memberi hadiah seperangkat persalinan (pakaian) kepada Haji Mutamakin.

Haji Mutamakin berhasil lolos dari hukuman pancung. Bahkan beliau mendapat bumi perdikan Kajen. Yaitu daerah yang bebas pajak negara. Beliau diberikan kebebasan dalam menyebarkan Agama yang harus sesuai dengan koridor Islam. Syeh Ahmad Mutamakin memiliki murid-murid besar seperti Kyai /Syeh Ronggo Kusumo,Kyai Mizan, R. Sholeh dan murid-murid lainnya yang tersebar dimana-mana.

Dalam pada itu Khatib Anompun dipanggil oleh Patih Danurejo dan Demang Irawan. Diperintahkan untuk bercerita tentang kisah orang-orang yang pernah dituduh ‘sesat’ di tanah Jawa ini.

Khatib Anom menerangkan bahwa pada jaman Sultan Fatah di demak terjadi penghakiman terhadap Syeh Siti Jenar yang juga dituduh sesat. Beliau dijatuhi hukuman mati. Pada jaman Sultan Trenggono juga terjadi pertuduhan terhadap Sunan Panggung, putra Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau dihukum mati dengan cara dibakar di alun-alun Demak. Beliau masuk kedalam api bersama anjingnya dan membawa alat tulis beserta dengan lembaran lontar.

Dalam kobaran api beliau menulis suluk. Ketika kayu habis dan api padam beliaupun masih dalam keadaan sehat bersama dengan anjingnya. Akhirnya beliau menyingkir dari wilayah Demak.

Sedangkan siapa sebenarnya Haji mutamakin ini. Sebagian riwayat menyebutkan bemikian.

Namanya adalah Syeh Ahmad Mutamakin. Beliau adalah seorang yang disegani serta berpandangan jauh, salah satu tokoh yang berjasa besar dalam penyebaran Agama Islam di Utara Pulau Jawa terkhusus wilayah Pati. Beliau juga seorang yang arif dan bijaksana. Ia pernah mencari ilmu sampai ke negeri – negeri Arab selama bertahun-tahun. Belajar ilmu-ilmu dibidang Syariat, selanjutnya belajar Thoriqoh menurut dorongan hatinya, sebagai landasan hidupnya.(Cerita tentang Syeh Ahmad Mutahamakin berasal dari Serat Cebolek, yang mengisahkan Ki Cebolek dalam kiprahnya menyebarkan Agama Islam Di Pantai Utara Jawa. Serat Cebolek karya R. Ng. Yasadipura I (1729-1803), Seorang Penulis yang  produktif pada istana Kartasura pada masa Paku Buwono II (berkuasa 1726-1749)

Dalam perjalanannya mencari ilmu itu, beliau mendapat seorang guru besar bernama Syaikh Zain Al- Yamani. Setelah beberapa lama berguru, beliau mendapat pengesahan resmi dari guru besar tersebut, ia mohon pamit pulang ke Jawa pulang untuk segera mengamalkan ilmu-ilmu yang diperolehnya.

Beliau melanjutkan perjalanan sampai ke Desa Cebolek untuk menyebarkan Agama Islam sampai kepedalaman, beliau memasuki wilayah baru. (Nama Desa Cebolek, ada versi yang mengatakan bahwa desa tersebut terletak di daerah Tuban, yang sekarang bernama Desa Winong. Kemudian ketika Syeah Mutamakin berada di wilayah Pati, nama Desa Cebolek yang ada di Tuban di gunakan di desa baru dfi wilayah Pati.)

Kemudian bertemu dengan H. Syamsudin yang dikenal dengan sebutan Surya Alam, sehingga nama wilayah itu Kajen dari kata “Kaji Ijen”. Beliau mendapat kepercayaan dari H. Syamsudin untuk menempatitempati dan mengolah daerah tersebut menjadi Desa yang dapat mengenal Agama Islam.

Selain belajar dan meperdalam Ilmu Pengetahuan agama dengan bersungguh-sungguh, ia juga belajar melatih jiwa dalam mengendalikan hawa nafsu. Alkisah beliau pernah menjalani puasa riadloh, disaat mau buka puasa, sang istri disuruh memasak memasak yang paling lezat. Kemudian beliau minta diikat pada tiang rumah. Masakan yang tersaji di maja makan hanya ia pandangi saja. Beliau mau menguji tingkat kesabaran hatinya. Namun ternyata nafsunya keluar menjelma menjadi dua ekor anjing. Kemudian anjing-anjing tersebut diberi nama Abdul Qohar dan Qumarudin. Kuda mahluk tersebut memakan habis hidangan yang berada di meja makan.

Pemberian nama pada kedua anjing tersebut seperti nama seorang penghulu dan khotib Tuban itulah yang kemudian memulai memicu kontroversi ini. sepertinya beliau ingin menyampaikan sindiran secara halus kepada masyarakat dan khusunya para ulama waktu itu. Sindirannya adalah hendaknya umat Islam janagan hanya mementingkan sisi lahiriah alias formalitas belaka dalam beragama tetapi hendaknya juga menyelami kedalaman hakekat atau isi agama Islam tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: