DEMOKRASI – Benda Asing Apa Itu ?


Kalau ditanya kepada mbah buyut kita apakah itu demokrasi, tentu banyak diantara mereka yang terbengong – bengong. Dikiranya benda apa atau bisa-bisa dikira makanan apa itu.

Namun jika ditanya soal apa harapannya kepada penguasa (baik raja, ratu,sultan,pemangku, yang dipertua dlsb) tentu jawabannya dalah sama yaitu perlindungan, pelayanan dan kesejahteraan.

Artinya boleh saja system bermasyarakat ataupun bernegara berbeda dari zaman ke zaman namun tujuan atau harapan bernegara tetap sama. Muara harapannya adalah keamanan dan kesejahteraan hidup.

Hanya saja tentu tuntutan masyarakat sudah berkembang jauh. Jika dahulu kala rakyat tidak meminta partisipasi dalam pengambilan keputusan publik maka sekarang rakyat ikut dalam partisipasi pengambilan keputusan. Itu terjadi baik langsung via pemilu maupun penyuaraan pendapat dan berorganisasi. Bisa juga terjadi secara tak langsung via wakil-wakilnya.

Namun perlu diingat juga bahwa dalam sejarahnya, belum pernah ada rakyat itu yang menjual negerinya kepada pihak asing. Justru dalam sejarah baik yang terjadi di Jawa maupun tanah Melayu adalah penguasa setempat yang karena sesuatu hal kemudian ‘menggadaikan’ bahkan menjual sebagian wilayahnya kepada pihak eropa.

Ok, kembali kepada masalah demokrasi. Pada dasarnya rakyat kecil tidak ambil pusing terhadap model demokrasi apa yang berlaku. Mau demokrasi atau democrazzy bagi rakyat kecil sana saja. Anda tahu kan bahwa demokrasipun punya banyak ‘baju’ ? Bagi rakyat kecil yang penting adalah tercapainya kesejahteraan, keadilan hukum dan terjaganya keamanan lahir dan batin. Ini termasuk keamanan beribadah sesuai agamanya juga. Artniya, sebenarnya demokrasi memang bukan tujuan tetapi alat untuk mencapai tujuan bersama.

Kebetulan oleh para founding-fathers kita, konstitusi yang disepakati adalah -kata para ahli- mirip atau banyak mengadopsi konstitusi Amerika. Dalam hal ini Presiden menyandang fungsi sebagai pemimpin jamaah menteri alisas kabinet atau disebut sebagai kepala pemerintaha. Di lain sisi juga Presiden sebagai kepala negara yang memegang simbol kehormatan negara dan simbol pemimpin tertinggi segala unsur kekuatan negara.

Sebagai kepala pemerintahan maka fungsi prsiden tak ubahnya selayaknya seorang perdana menteri. Yaitu pemimpin dari para menteri kabinet. Karena itu presiden tidak cukup bertindak sebagai raja yang hanya bertindak mengeluarkan ‘titah’ saja (baca : instruksi bin instruksi) tetapi perlu tindakan manageman langsung kepada semua lembaga dan kementrian di bawahnya. Tentu dalam batas kewenangan beliau.

Begitu juga konstruksi badan legislatif dalam konstitusi kita. Anggota legislatif didesain sebagai wakil rakyat yang artinya benar-benar mewakili kepentingan rakyak. Bukan hanya kepentingan parpol ansich semata.

Namun untungnya anomali ini terjadi bukan di negeri kita tetapi terjadi di negeri antaberantah. Kalau di negeri kita mah………  apik-apik wae…., Salam Democrazzy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: