Apatisme Rakyat, Proses Demokrasi Yang Cacat dan Korupsi


Dari percakapan di tingkat grassroot – warung kopi sebagai contoh – nampak sekali adanya apatisme yang meningkat. Hal ini justru memicu timbulnya lingkaran setan yang berujung pada bobroknya kualitas demokrasi. Lingkaran setannya begini, para kontestan pemilu (nasional maupun lokal, partai maupun person) berusaha dengan berbagai cara baik yang samar maupun halus untuk menawarkan ‘iming-iming’ kepada para calon pemilih. Sebaliknya para pemilih yang termasuk kelompok apatis ini juga sudah ‘pandai’.

Para pemilih ini sudah tidak perduli parati apa atau siapa orangnya. Yang penting bagi mereka adalah apa dan seberapa besar yang mereka peroleh ketika ‘memberikan’ suaranya. Ibaratnya berapa nilai pembelian suara mereka. Bagi mereka ini, siapapun yang terpilih baik tingkat lokal maupun sekala nasional adalah sama saja. Mereka tetap melarat. Pendidikan semakin mahal. Lapangan usaha semakin sulit. Belum lagi tertimpa pemberitaan di televisi soal carut marut hukum, politik dan korupsi.

Jadilah kelompok grassroot ini semakin apatis. Ujung dari keapatisan ini adalah pikiran untuk memperdagangkan ’suara’ mereka ketika ‘dibutuhkan’. Inilah ongkos demokrasi kita. Demokrasi yang akhirnya cacat. Kecacatan demokrasi ini tentu melahirkan output yang ‘cacat’ pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: