KONSULTASI KEREJEKIAN


Demi kepentingan para pembaca sekalian yang mempunyai masalah kerejekian dan kesulitan hidup maka isi dari konsultasi via email antara saya dengan seorang klien ini saya muat dalam tulisan kali ini.

Tanya (klien) :
……….Dengan dukungan orang tua dan bermodal uang pinjaman di sertai semangat 45 saya buka usaha kecil-kecilan dengan jualan Harum Manis atau Gula Kapas, karena saya pikir ini salah satu usaha dengan modal kecil dengan potensi untung yang lumayan. Pada 2 bulan pertama jualan omset bisa di bilang agak lumayan dan ga ada masalah karena selain hal baru cuma saya yg buka usaha semacam itu di daerah yang sekarang sya tinggal. tapi pada bulan-bulan berikutnya omset menurun drastis dari bulan-bulan sebelumnya. bahkan sekarang ini lebih parah dan semakin bertambah parah. Sayapun sangat menyadari akan hal itu, dan saya juga tak lupa selalu memohon di dalam doa supaya begini begitu… dan yang saya kadang ga habis pikir kalau saya sedang menambah untuk lebih mendekatkan diri padaNya, misalnya seperti sekarang ini yang sedang dalam menjalani riyadhoh 40hr yang intinya memohon keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat, rasanya cobaan hidup semakin berat, rejeki seret banget, penghasilan buat sehari-hari aja bisa di bilang senin kamis. tapi masih saya jalani dengan sabar dan ikhlas karena saya anggap itu sebuah ujian yg diberikan untuk hambaNya.

Demikian sekelumit tentang problema hidup yang saya hadapi, mohon kiranya bapak berkenan memberikan wejangan serta solusinya kepada Saya, Semoga amal baik bapak dengan menolong sesama di balas oleh Allah dengan balasan yang berlipat ganda amin, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan…….

Jawab :
Saya turut merasakan beban perjuangan yang Anda alami ketika membaca paparan Saudara atas perjalanan hidup yang Anda alami. Namun saya salut atas ketabahan Anda.

Semoga sekelumit paparan berikut bisa membantu Anda. Begini ya. Hidup kita ini ada yang punya. Kita hidup di dunia ini bukan kehendak kita. Allah yang punya kehendak.

Memang biasanya ketika seseorang melakukan riadloh maka akan semakin diuji. Semua yang Anda alami itu saya sudah pernah merasakan.

Untuk itu silahkan melanjutkan riadlohnya. Namun kali ini mari yang diperbesar adalah keikhlasan, kerelaan dan kepasrahan total kepada kehendakNya. Kira-kira jika diungkapkan dalam bahasa percakapan manusia gitu begini : Ya Allah, hamba mengaku dan sekaligus menjadi saksi bahwa tiada Tuhan yang berkuasa menentukan takdir nasibku kecuali Engkau.
Engkau maha benar, tentu takdir-Mu pun benar, tidak pernah keliru dan selalu adil. Jangankan kesusahan di dunia yang begini saja, andaipun kelak Engkau taruh hamba di dasar neraka jahanampun tentu bukan salah-Mu, Engkau TETAP MAHA BENAR. Semua ini sesungguhnya hambalah yang telah berlaku zalim, semua ini tentu karena kesalahan hamba sendiri…… Namun hamba yakin akan kasihMu, welas asihMu, sifat rahman dan rahim-Mu. Bagaimanapun keadaan dan kesengsaraan hamba, hamba yakin Engkau pasti mau menolong hamba. Hamba ikhlas akan ketentuanMu sekaligus yakin dan pasrah kepada pertolonganMu. Al Fatihaah……..(baca
berulang-ulang dengan dihayati maknanya, terutama pada kalimat (iyyakana’budu WA IYYAKANASTA’IIN = hanya kepadaMu hamba menyembah dan hanya kepadaMu hamba meminta / berdoa )

Kemudian bersholawatlah dengan sungguh-sungguh untuk mendoakan Kanjeng Nabi dan sekaligus seakan-akan jadikan Beliau itu ‘bank garanty’ atas doa-doa Anda. Dalam hati katakan bahwa “hamba memohon kepadaMu ya Allah ATAS NAMA MUHAMMAD RASULULLAH“.

Kalau sudah bisa begitu tinggal pasrah saja kepada kasihNya. Jangan pikir lagi beban Anda. Yang namanya sudah meminta dan menyerahkan …ya biarkan Dia yang menjawab, menyelesaikan, ….dan biarkan Dia Yang Maha Memberi Rejeki,Ar-Rozaaq, “bekerja” untuk Anda. Biarkan soal rejeki menjadi tanggungan-Nya. Laksanakan saja apa yang menjadi tanggungan Anda ( menyembahNya lahir bathin dan bekerja dengan diniatkan sebagai ibadah. Ibadah = mencari ridlo-Nya.)

Satu hal lagi. Menurut Anda dimana Allah ? Sebenarnya Dia begitu dekat. Dia dekat dan maha merespon keinginan Anda. Hanya saja Anda perlu membetulkan sikap dalam berdoa. Jangan mendikte Allah. Tapi ‘mengemislah’, berserulah dengan keyakinan bahwa Dia amat pemurah dan mengiba menangislah di hadapanNya.

Yakinlah dan yakinlah. Yakinlah bahwa Dia amat peduli dan maha pemurah kepada Anda. Wong seorang ayah saja nggak mungkin ngasih ular kepada anaknya ketika anaknya meminta ikan. Nggak mungkin seorang ibu akan ngasih batu jika anaknya minta nasi. Apalagi Allah yang adalah
‘melebihi’ dari orang tua kita dalam cintanya kepada kita. Perhatikan burung di udara, nggak nanam nggak apa, tapi dikasih makan oleh Nya. Rejeki dicukupiNya, si burung tinggal menjalankan ‘tugasnya’ saja, sedangkan rejeki si burung menjadi ‘tanggunan-Nya.’

Sekian dulu, kiranya bermanfaat.

Salam, Tiknan TasmaunWahyu Kamulyan

DAFTAR JUDUL ARTIKEL SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: