TKW sayang,TKW yang malang : hilang keperawanan di Malaysia


Sebut saja namanya Nona. Suatu hari di tahun 2006 dia datang menjumpai saya. Ketika itu saya lagi berkunjung ke negeri jiran, Malaysia. Tepatnya di Pulau Pinang.

Si Nona ini menangis kepada saya minta tolong untuk menyelesaikan masalahnya. Ceritanya dia pergi ke menjadi TKW ke Malaysia ini dengan tujuan mengais rejeki dengan bekerja di salah satu pabrik garmen, ‘kilang pakaian’ sebutan orang sana.

Dia pergi dari rumah setelah lulus SMA. Dan, menurutnya ketika itu dia masih perawan ting-ting. Tak lama dia bekerja di pabrik tersebut, ternyata sudah dihadang masalah. Apa tidaknya, gaji tak cukup. Mula-mula sih katanya ok. Namun tak lama terjadi penurunan omset pabrik yang mengakibatkan tidak adanya kerja lembur. Gajian dua minggu sekali hanya dapat pas-pasan untuk makan. Belum lagi dipotong untuk bayar ‘permit kerja’ yaitu semacam pajak kerja yang harus ditanggung pekerja yaitu sebesar seratus ringgit tiap bulannya. Ketika berangkat dari rumah, Nona sudah berhutang dengan rentenir. Hari-hari kerjanya bercucuran air mata mengenangkan nasib.

Suatu malam dia diajak kawannya yang tinggal sekamar di asrama pabrik tersebut untuk jalan-jaln keluar makan angin. Sampailah dia ke tempat karaoke. Di sana banyak abang-abang dan pakcik-pakcik Melayu, Cina dan India. Pakistan dan Bangladespun banyak. Indon – sebutan untuk orang Indonesia- banyak juga. Di tempat karaoke itu ternyata si kawan yang mengajaknya tadi telah janjian dengan beberapa abang Melayu. Ada yang kerja sebagai polisi, migresen [pegawai imigrasi ], rela [semacam hansip] dll.

Ketika pulang, mereka diantar mobil oleh kenalan si kawan tadi. Dalam mobil ada empat orang, yaitu Nona, kawan perempuannya, dan dua orang abang Melayu. Ternyata mobil tidak menuju ke asrama tetapi ke apartemen sewaan si abang melayu tersebut. Rupanya kawan perempuan Nona ini sudah terbiasa dibawa laki-laki. Kadang Melayu, kadang Cina,kadang India dan kadang Banglades dan juga kadang sama-sama Indonesia. Celakanya dia juga mempengaruhi si Nona untuk mengikuti jejaknya.Saat itulah Nona kehilangan pegangan karena kebutuhan uang sehingga kehilangan keperawanan.

Menurut Nona apa yang dialaminya juga dialami hampir semua pahlawan devisa kita, para TKW kita yang ada di Malaysia. Andai ada sepuluh TKW, sekurang-kurangnya ada tujuh yang terjerembab dalam jurang yang sama. Nggak perduli gadis, janda kembang, janda kering / stw bahkan yang bersuami sekalipun. Dan hal itu akhirnya saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Banyak perempuan kita yang hilang keperawanan di sana gara-gara kesempitan keuangan.

Kembali kepada masalah Nona tadi. Dia bercerita bahwa setelah hampir dua tahun di sana, dia dikabari orang tuanya bahwa jika dia sudah pulang nantinya akan dikawinkan dengan seorang jejaka di kampungnya. Kebetulan jejaka tersebut sudah bekerja dengan mapan, tambahan lagi masih kerabat jauh dengannya.

Masalahnya dia takut akan keadaannya. Mau bercerita terus terang tidak berani. Tidak bercerita takut ketahuan dan membuat suaminya nanti kecewa. Dia nangis-nangis minta tolong supaya tidak sampai ketahuan. Dengan niat mencari maslahatnya dan menutup aib sesama maka saya tolong dia dengan memberikan beberapa ramuan untuk dikonsumsi.

Empat bulan kemudian, ketika saya sudah kembali ke Indonesia, saya mendapat sms. Ternyata sms dari Nona. Dia mengucapkan terimakasih bahwa malam pertamanya dengan suaminya ‘sukses’ persis ketika dia kehilangan keperawanan yang pertama kali di rantau orang.

Sekian kisah ini, wassalam

DARTAR JUDUL ARTIKEL DI BLOG INI SEMUANYA…Klik DISINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: